Minggu, 12 Januari 2020

14. MENDALAMI KEMBALI ARTI TRINITAS

Coba kita menaapakinya melalui pertanyaan sbb:


Tanya :

Saat Yesus dibaptis, nyata sekali ada 3 ousia. Yesus yg ousia nya Allah sedang dibaptis, Bapa yg ousia nya Allah ada di sorga, dan Roh Kudus yg ousia nya Allah juga hadir dalam wujud burung merpati??

Bagaimana bisa dikatakan tiga pribadi Trinitas dalam satu ousia????

Catatan :
Ousia = kodrat, hakekat, substansi, esensi

Jawab/penjelasan :

Perhatikan si penanya memiliki pengertian akan Allah yg keliru. Pemahamannya akan Allah sangat dangkal. Dia memahami  ke-Allah-an dapat dibatasi oleh ruang. Dia memahaminya begini ; karena Yesus adalah Allah, Bapa yang di sorga adalah Allah dan Roh Kudus yg hadir dalam rupa burung merpati juga Allah, maka berarti ada 3 Allah. Mengapa? Karena menurut dia, tiga pribadi yg memiliki KODRAT/OUSIA ILAHI (KE-ALLAH-AN), hadir di 3 tempat berbeda dan dalam cara berbeda juga.

Itu konsep Allah yang serba terbatas.

Perhatikan dari tulisan Ludwig Ott no 23 di atas, yg merupakan Dogma. Dimana anak2pun sering mengucapkannya. " Allah hadir di mana-mana. "
Jangan sampai si penanya berpikir demikian. " Karena Allah hadir di mana-mana, Allah berjumlah banyak tak terbatas. " BUKAN !!! Allah tetap Esa. (Ludwig Ott : 12. There is only one God. Hanya ada satu Allah.)

Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah hadir dalam setiap ruang, waktu dan semua substansi (pengada) terbatas.

Allah hadir sebagai prinsip yang memungkinkan semua pengada tersebut menjadi ada.

Tentu saja, itu bukan hanya pernyataan kosong, tetapi merupakan kebenaran. Tidak ada tempat, ruang atau substansi (pengada) dimana Allah tidak hadir.

Mengapa ???

Jika Allah tidak hadir disitu, maka "di situ" berarti tak ada apa2 alias NIHIL. Allah-lah yang menopang segala sesuatu, menjadikan segala sesuatu, dan tetap mempertahankan eksistensi segala sesuatu.

Bagaimana dgn si penanya yg bingung dengan pengertian ini : Ada 3 pribadi yang memiliki 1 ousia / kodrat / hakikat yg sama, yaitu ousia Allah/ilahi.

Ousia Allah atau bisa juga disebut substansi illahi, tetap 1, tunggal, Esa, tak terbagi (istilah Ibrani yachid =  always absolute numerical one/ solutary), walaupun "di-share" oleh 3 pribadi yang berbeda.

Penjelasannya :

Jangan memikirkan atau membandingkan "ousia" Allah tersebut secara material, jasmaniah, yang mengambil tempat atau ruang waktu tertentu. Karena… jika kita membayangkan ousia Allah dengan cara tersebut, pasti kita akan kesulitan memikirkan bagaimana 1 ousia yang sama dibagi oleh 3 pribadi atau hadir pada saat bersamaan " di semua ruang, tempat, atau dimana-mana. "

Pikirkanlah… …
Renungkan-lah … ...
Pahamilah… ...

Itulah Trinitas.

253. Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat" (Sinode Toledo XI 675:DS 530). "Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi" (K. Lateran IV 1215: DS 804).

254. Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah "seakan-akan sendirian" (Fides Damasi: DS 71). "Bapa", "Putera", "Roh Kudus", bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena, mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: "Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera"(Sin. Toledo XI 675: DS 530). [468, 689] Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah "Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan" (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255. Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: "Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita" (Sin.Toledo XI 675: DS 528). [240] Dalam mereka "segala-galanya... satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan" (K. Firenze 1442: DS 1330). "Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera" (ibid., DS 1331).

Mendalami arti Substansi / Ousia / Nature / Kodrat / hakekat dibandingkan dengan Pribadi / hypostasis / person / pribadi

Catatan Penting : Sesuatu dikatakan ada jika mempunyai Substansi atau ousia atau nature atau kodrat atau hakekat.

Perhatikan :

Mineral memiliki substansi, tetapi tidak memiliki pribadi
Batu memiliki substansi, tetapi tidak memiliki pribadi.
Tanaman memiliki substansi, tetapi tak berpribadi
Kucing memiliki substansi, tetapi tak berpribadi

Manusia memiliki substansi, juga memiliki pribadi
Malaikat memiliki substansi, juga memiliki pribadi

Cara menguji suatu ke-ADA-an (keberadaan)

Adakah mineral (mis : Natrium) ?                        Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah batu ( batu giok ) ?                                  Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah tanaman ( pohon mangga) ?                  Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah Kucing ?                                                   Ada (bersubstansi, tak berpribadi)

Adakah manusia ?                                                 Ada (bersubstansi, berpribadi)

KESIMPULAN :

Sesuatu ada, karena bersubstansi, bukan karena tidak ada pribadi (0 pribadi), bukan karena adanya pribadi ( 1 pribadi, 2 pribadi, …. 3 pribadi atau bahkan 1000 pribadi)

Jadi yang menunjukkan Allah itu satu, adalah Allah dengan satu substansi, bukan jumlah pribadiNya

Bisakah dikatakan bahwa Allah tidak bersubstansi, yang berkonsekuensi Allah itu tidak ada? Tidak bukan? Demikian juga cara untuk memahami Trinitas (Satu Substansi Allah dalam Tiga Pribadi Allah), Tiga Pribadi Allah tidak berarti Tiga Substansi.

Maka adalah keliru untuk "jump to conclution":

X pribadi = X Allah

0 Pribadi = 0 Allah (untuk mengkritik iman agama tertentu)
3 Pribadi = 3 Allah (untuk mengkritik iman Kristen)

Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" ( disebut satu Allah, karena hanya ada satu substansi Allah, satu-satunya !!!)

Pribadi-Pribadi Allah bukanlah bagian (parts) dari substansi Allah. Seandainya demikian, tentulah tidak bisa dikatakan Bapa adalah sepenuhnya Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah, melainkan masing-masing adalah sebagian Allah (dan hal ini bertentangan dengan iman Katolik). Yang benar: Pribadi adalah "who subsist in the nature" (pribadi adalah jati diri dalam kodrat/hakikat) bukan "some part of nature." Karenanya tidak masalah untuk mengatakan bahwa Bapa adalah sepenuhnya Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah dan bahwa keTiganya berada dalam kesatuan substansi.