Minggu, 12 Januari 2020

14. MENDALAMI KEMBALI ARTI TRINITAS

Coba kita menaapakinya melalui pertanyaan sbb:


Tanya :

Saat Yesus dibaptis, nyata sekali ada 3 ousia. Yesus yg ousia nya Allah sedang dibaptis, Bapa yg ousia nya Allah ada di sorga, dan Roh Kudus yg ousia nya Allah juga hadir dalam wujud burung merpati??

Bagaimana bisa dikatakan tiga pribadi Trinitas dalam satu ousia????

Catatan :
Ousia = kodrat, hakekat, substansi, esensi

Jawab/penjelasan :

Perhatikan si penanya memiliki pengertian akan Allah yg keliru. Pemahamannya akan Allah sangat dangkal. Dia memahami  ke-Allah-an dapat dibatasi oleh ruang. Dia memahaminya begini ; karena Yesus adalah Allah, Bapa yang di sorga adalah Allah dan Roh Kudus yg hadir dalam rupa burung merpati juga Allah, maka berarti ada 3 Allah. Mengapa? Karena menurut dia, tiga pribadi yg memiliki KODRAT/OUSIA ILAHI (KE-ALLAH-AN), hadir di 3 tempat berbeda dan dalam cara berbeda juga.

Itu konsep Allah yang serba terbatas.

Perhatikan dari tulisan Ludwig Ott no 23 di atas, yg merupakan Dogma. Dimana anak2pun sering mengucapkannya. " Allah hadir di mana-mana. "
Jangan sampai si penanya berpikir demikian. " Karena Allah hadir di mana-mana, Allah berjumlah banyak tak terbatas. " BUKAN !!! Allah tetap Esa. (Ludwig Ott : 12. There is only one God. Hanya ada satu Allah.)

Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Allah hadir dalam setiap ruang, waktu dan semua substansi (pengada) terbatas.

Allah hadir sebagai prinsip yang memungkinkan semua pengada tersebut menjadi ada.

Tentu saja, itu bukan hanya pernyataan kosong, tetapi merupakan kebenaran. Tidak ada tempat, ruang atau substansi (pengada) dimana Allah tidak hadir.

Mengapa ???

Jika Allah tidak hadir disitu, maka "di situ" berarti tak ada apa2 alias NIHIL. Allah-lah yang menopang segala sesuatu, menjadikan segala sesuatu, dan tetap mempertahankan eksistensi segala sesuatu.

Bagaimana dgn si penanya yg bingung dengan pengertian ini : Ada 3 pribadi yang memiliki 1 ousia / kodrat / hakikat yg sama, yaitu ousia Allah/ilahi.

Ousia Allah atau bisa juga disebut substansi illahi, tetap 1, tunggal, Esa, tak terbagi (istilah Ibrani yachid =  always absolute numerical one/ solutary), walaupun "di-share" oleh 3 pribadi yang berbeda.

Penjelasannya :

Jangan memikirkan atau membandingkan "ousia" Allah tersebut secara material, jasmaniah, yang mengambil tempat atau ruang waktu tertentu. Karena… jika kita membayangkan ousia Allah dengan cara tersebut, pasti kita akan kesulitan memikirkan bagaimana 1 ousia yang sama dibagi oleh 3 pribadi atau hadir pada saat bersamaan " di semua ruang, tempat, atau dimana-mana. "

Pikirkanlah… …
Renungkan-lah … ...
Pahamilah… ...

Itulah Trinitas.

253. Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat" (Sinode Toledo XI 675:DS 530). "Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi" (K. Lateran IV 1215: DS 804).

254. Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah "seakan-akan sendirian" (Fides Damasi: DS 71). "Bapa", "Putera", "Roh Kudus", bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena, mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: "Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera"(Sin. Toledo XI 675: DS 530). [468, 689] Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah "Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan" (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255. Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: "Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita" (Sin.Toledo XI 675: DS 528). [240] Dalam mereka "segala-galanya... satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan" (K. Firenze 1442: DS 1330). "Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera" (ibid., DS 1331).

Mendalami arti Substansi / Ousia / Nature / Kodrat / hakekat dibandingkan dengan Pribadi / hypostasis / person / pribadi

Catatan Penting : Sesuatu dikatakan ada jika mempunyai Substansi atau ousia atau nature atau kodrat atau hakekat.

Perhatikan :

Mineral memiliki substansi, tetapi tidak memiliki pribadi
Batu memiliki substansi, tetapi tidak memiliki pribadi.
Tanaman memiliki substansi, tetapi tak berpribadi
Kucing memiliki substansi, tetapi tak berpribadi

Manusia memiliki substansi, juga memiliki pribadi
Malaikat memiliki substansi, juga memiliki pribadi

Cara menguji suatu ke-ADA-an (keberadaan)

Adakah mineral (mis : Natrium) ?                        Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah batu ( batu giok ) ?                                  Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah tanaman ( pohon mangga) ?                  Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah Kucing ?                                                   Ada (bersubstansi, tak berpribadi)

Adakah manusia ?                                                 Ada (bersubstansi, berpribadi)

KESIMPULAN :

Sesuatu ada, karena bersubstansi, bukan karena tidak ada pribadi (0 pribadi), bukan karena adanya pribadi ( 1 pribadi, 2 pribadi, …. 3 pribadi atau bahkan 1000 pribadi)

Jadi yang menunjukkan Allah itu satu, adalah Allah dengan satu substansi, bukan jumlah pribadiNya

Bisakah dikatakan bahwa Allah tidak bersubstansi, yang berkonsekuensi Allah itu tidak ada? Tidak bukan? Demikian juga cara untuk memahami Trinitas (Satu Substansi Allah dalam Tiga Pribadi Allah), Tiga Pribadi Allah tidak berarti Tiga Substansi.

Maka adalah keliru untuk "jump to conclution":

X pribadi = X Allah

0 Pribadi = 0 Allah (untuk mengkritik iman agama tertentu)
3 Pribadi = 3 Allah (untuk mengkritik iman Kristen)

Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" ( disebut satu Allah, karena hanya ada satu substansi Allah, satu-satunya !!!)

Pribadi-Pribadi Allah bukanlah bagian (parts) dari substansi Allah. Seandainya demikian, tentulah tidak bisa dikatakan Bapa adalah sepenuhnya Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah, melainkan masing-masing adalah sebagian Allah (dan hal ini bertentangan dengan iman Katolik). Yang benar: Pribadi adalah "who subsist in the nature" (pribadi adalah jati diri dalam kodrat/hakikat) bukan "some part of nature." Karenanya tidak masalah untuk mengatakan bahwa Bapa adalah sepenuhnya Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah dan bahwa keTiganya berada dalam kesatuan substansi.

Minggu, 15 September 2019

13. SEDERHANAKAH MENGERTI TRINITAS ?????

Beberapa saat lalu saya membaca sebuah artikel, yang tampaknya tak terlalu rumit tentang Trinitas. Apaka anda menyetujuinya ??? Silakan simak ......

Suatu ketika pernah seorang theolog (bukan katolik) berkata,saat seseorang bertanya kepadanya tentang Trinitas :” Saya tidak tertarik membicarakan aspek hitung-menghitung dalam ketuhanan.” ; bahkan umat katolik sendiri terkadang ada yang berpikir bahwa ada kontradiksi matematis, saat kita mengatakan “Tiga sama dengan satu.”. Tentu bukan itu maksudnya. Yang kita maksud adalah:” Tiga Pribadi dalam satu Kodrat.”. Masalahnya muncul, jika kita tak dapat menjelaskan kata pribadi/person dan kodrat/nature, biasanya pembicaraan terputus ; dan dibiarkan mengambang dengan dua bilangan, seolah hal tersebut mewakili kebenaran tertinggi tentang Allah .

Tahap awal untuk memahami arti pribadi/person dan kodrat/nature sesungguhnya cukup sederhana. Kita gunakan frasa kata “kodrat-saya,” yang menunjukkan ada satu pribadi, “saya”, yang memiliki sebuah kodrat/nature. Pribadi tak mungkin ada tanpa kodrat/nature, ada perbedaan disini, pribadi yang memiliki kodrat, bukan sebaliknya. Sehingga kita mengatakan:” kodrat saya,” bukansaya kodrat.”

Selanjutnya, kita lihat bahwa pribadi dan kodrat merupakan jawaban dari dua pertanyaan yang berbeda. Apabila kita (katakanlah dalam tempat gelap) menyadari bahwa ada sesuatu di dalam sebuah ruangan, kita akan bertanya, “ Apa itu?” Jika kita  dapat melihat ada keberadaan seseorang di ruangan itu, tetapi tak dapat mengetahui pasti, kita bertanya “ Siapa itu?”. “Apa itu?pertanyaan tentang kodrat, sedangkan  Siapa itu?” adalah pertanyaan mengenai pribadi.

Ada perbedaan lain yang biasanya dipakai oleh peserta didik filsafat untuk mengerti. Kodrat saya memutuskan apa yang dapat saya lakukan/perbuat. Saya dapat mengangkat tangan, misalnya, karena perbuatan itu bisa dilakukan oleh kodrat manusia; Saya makan, tertawa, tidur, berpikir, karena semua tindakan ini berjalan karena kodrat manusia. Saya tidak bertelur, kodrat burung yang melakukan hal itu; jika saya menggigit orang, saya tak mengeluarkan bisa padanya, karena  bisa disemburkan oleh kodrat ular; saya tak dapat hidup dalam air, kodrat ikan yang dapat melakukannya. Namun berpikir di lakukan oleh kodrat saya yang memutuskan perbuatan apa yang mungkin bagi saya; saya melakukannya, saya adalah pribadi ; kodrat adalah sumber atau asal dari seluruh operasi/tindakan, pribadi yang melakukan semuanya.

Terapkan hal di atas untuk mulai mengerti keberadaan Allah, kita dapat melihat bahwa ada satu kodrat ilahi, sebuah jawaban untuk pertanyaan “Apa itu Allah?”, satu sumber atau asal dari tindakan/operasi ilahi. Namun ada tiga pribadi yang semuanya memiliki satu kodrat. Untuk pertanyaan,” Siapa Engkau?” masing-masing pribadi dapat memberikan jawabanNya sendiri, Bapa atau Putera atau Roh Kudus. Tapi untuk pertanyaan “ Apakah Engkau?” jawabannya hanya satu,” Allah.” Karena masing-masing secara total memiliki satu Kodrat ilahi yang sama, dan Kodrat memutuskan apa keberadaannya.

Selasa, 25 Juni 2019

12. Purgatory, Fact Or Fiction? by Bob Stanley

Biar ga bias, sy copy paste aja ya ...



Purgatory, Fact Or Fiction?


"You, therefore, must be perfect, as your Heavenly Father is perfect."
Matthew 5:48


It stands to reason that since GOD is perfect, then Heaven has to be a perfect place, and nothing imperfect can enter (Revelation 21:27). GOD will not join Himself to anything defiled. If a person dies with sins not sufficient for hell (the sin unto death, 1John 5:16-17), and has lesser sins to prevent entry into Heaven, then there has to be a third place in which to atone for them. This would be a temporary place, as stated in Matthew 5:25-26, "You shall not come out until you have paid the last penny".
Come out of where?


After Adam's sin, the gates of Heaven were closed, and no one was allowed to enter (John 3:13) until Jesus Christ redeemed the human race and opened the gates once again. Where were the spirits of Moses and Elias, who appeared and spoke with Jesus at the transfiguration (Matthew 17:3)? They could not have been in Heaven since it was closed, and they would have been lost had they been in hell. They had to have been in a third place. If there was a third place then, why not a third place now?

What about Lazarus? He was already dead four days (John 11:17) when Jesus arrived at his tomb. Where was his soul during those four days? It could not be heaven or hell for the same reasons as for Moses and Elias.
His soul had to have been in a third place.


Philippians 2:10 says:
"That at the name of Jesus, every knee should bend of those in Heaven, on earth, and 'under the earth'."
'Under the earth', could it mean hell, or is it a third place?
Non Catholic theologians struggle trying to reconcile their denial of the existence of Purgatory with what Paul said in 1Corinthians 3:12-15:
"Now if any one builds on the foundation with gold, silver, precious stones, wood, hay, straw— each man’s work will become manifest; for the Day will disclose it, because it will be revealed with fire, and the fire will test what sort of work each one has done. If the work which any man has built on the foundation survives, he will receive a reward. If any man’s work is burned up, he will suffer loss, though he himself will be saved, but only as through fire
*."
To whom do these verses refer? Obviously the person is not in hell, as verse 15 says "himself will be saved". He cannot be in heaven either as the same verse implies suffering, "as through fire", and there is no suffering in heaven. These verses say that man will be purified by fire and then will be saved to enter Heaven. Where will this, "yet as though through fire", take place if not in a third place called Purgatory?

*The Greek word used for fire is "pursw" (puroo) of which "pur" is the root word for Purgatory.


"And who shall be able to think of the day of His coming? And who shall stand to see Him? For HE IS LIKE A REFINING FIRE, and like the fuller's herb; AND HE SHALL SIT REFINING AND CLEANSING THE SILVER. AND HE SHALL PURIFY THE SONS OF LEVI, AND SHALL REFINE THEM AS GOLD, AND AS SILVER, and they shall offer sacrifices to the Lord in justice."
Malachi 3:2-3
"...Strike the Shepherd, and the sheep shall be scattered; and I will turn My hand to the little ones. And they shall be in all the earth, said the Lord, TWO PARTS IN IT SHALL BE SCATTERED, AND SHALL PERISH, BUT THE THIRD PART SHALL BE LEFT THEREIN. AND I WILL BRING THE THIRD PART THROUGH THE FIRE, AND WILL REFINE THEM AS SILVER IS REFINED, AND I WILL TRY THEM AS GOLD IS TRIED. THEY SHALL CALL ON MY NAME, AND I WILL HEAR THEM. I WILL SAY: YOU ARE MY PEOPLE. AND THEY SHALL SAY; THE LORD IS MY GOD."
Zechariah 13:7-9
"As silver is tried by fire, and gold in the furnace, so the Lord tries the hearts."
Proverbs 17:3.
The metal refiner watches the silver, for if the process is longer than necessary, the silver will be harmed.
"He shall sit refining and cleansing the silver. And he shall purify the sons of Levi, and shall refine them as gold, and as silver..."
Malachi 3:3.
HE KNOWS THE PROCESS IS COMPLETE WHEN HE CAN SEE HIS OWN IMAGE REFLECTED IN THE SILVER.
GOD SAID, "LET US MAKE MANKIND IN OUR IMAGE AND LIKENESS."
Genesis 1:26


"...Woe is me, because I have held my peace; because I am a man of unclean lips, and I dwell in the midst of a people that has unclean lips, and I have seen with my eyes the King of the Lord of Hosts. And one of the Seraphims flew to me, and in his hand was a live coal, which he had taken with the tongs off the altar. And he touched my mouth and said, 'BEHOLD THIS HAS TOUCHED YOUR LIPS, AND YOUR INIQUITIES SHALL BE TAKEN AWAY, AND YOUR SIN SHALL BE CLEANSED'." Isaiah 6:5-7
What can this possibly mean other than a purgation of sins through fire?


In 1Peter 3:19, Christ preached to the spirits in prison. What spirits? What prison? We will become pure spirits only after we die, so the spirits have to be the spirits of the dead. Prison cannot mean Heaven, and souls in hell are lost forever. Prison must mean a third place.
1Peter 4:6, the Gospel was preached "even to the dead". Again, where were these dead?
Matthew 12:32, "...but whoever speaks against the Holy Spirit, it will not be forgiven him either in this world or in the world to come." This passage alludes to another world in which some sins will be forgiven. What other world? Again it could not be either Heaven or hell.
Hebrews 12:23, "...and to the Church of the Firstborn who are enrolled in the heavens, and to GOD, THE JUDGE OF ALL AND TO THE SPIRITS OF THE JUST MADE PERFECT."
We have already seen from Revelation 21:27 that nothing imperfect will enter heaven, and in Hebrews 12:23, the spirits of the just are made perfect. Revelation 22:14 shows that there will be a cleansing before admission to the tree of life and entrance through the gates of the city. Where will all of this happen if not in a third place?


"For everyone shall be salted with fire, and every victim shall be salted."
Mark 9:48.
What fire, but the purification fire of Purgatory?
"But that servant who knew his masters will, and did not make ready for him and did not act according to his will, will be beaten with many stripes."
Luke 12:47.
Are people beaten in Heaven? Those in hell are lost, so where will this punishment be fulfilled?


Very strong evidence that a third place exists, is in 2Maccabees 12:38-46:
"...it is therefore a holy and wholesome thought to Pray for the dead, that they may be loosed from sins."
If there are only Heaven and hell, why then does Scripture ask us to pray for the dead? If the dead are in hell, prayer is useless. If the dead are in Heaven, prayer is not needed. Therefore there has to be a third place where prayers are needed.
St. Paul prayed for his dead friend Onesiphorus in 2Timothy 1:18,
"May the Lord grant him to find mercy from the Lord on that day."
Why would Paul pray for the dead if he thought his friend to be in heaven or hell where prayers would help neither?


The greatest torment in Purgatory is to be separated from GOD for a period of time. Remember, in this life we have five senses, and they are always a distraction for us when we try to concentrate on things of GOD such as prayer. After we leave this life, we are spirit and have lost our five senses. There are no more distractions.


Purgatory should be regarded as a great blessing from GOD. Even though souls there are in torment, it is only a temporary torment. All who go there are assured of eventually gaining the Kingdom of Heaven.
It sure beats the third alternative...


The doctrine of Purgatory was defined by the Council of Florence in 1431,
and was reaffirmed by the Council of Trent in 1563.


Some Scripture verses for Purgatory:
Sir 7:33, Isa 6:5-7, Isa 61:1, *2Macc 12:38-46, Mal 3:2-3, Mt 5:25-26,48, Mt 17:1-8, Mt 25:31-46, Lk 6:19-31,
Lk 12:58-59, *1Cor 3:12-15, 2Cor 5:10, Eph 6:18, Phil 2:10, 2Tim 1:16-18, Jam 1:12,5:19-20, Heb 9:27, Heb 12:23, 1Pet *1:3-7, 1Pet *3:13-20, *1Pet 4:6, Rev 6:9-10, Rev 21:27,22:14-15,

CCC 1030-1032.


What did the Church Fathers and early Church writers have to say regarding Purgatory?
Here are some references...
The 'J' numbers refer to "The Faith of the Early Fathers" by William A. Jurgens.
Tertullian, The Soul 58:1. J352 208AD
Tertullian, The Crown 3:2. J367 211AD
Tertullian, Monogamy 10:1. J382 213AD
Cyril of Jerusalem, Catechet Lecture 23:5:9-10. J852-*853
Basil, Homilies on the Psalms Ps7:2. J956
Gregory of Nyssa, Sermon on the Dead, J1061 382AD
Epiphanius of Salamis, Against All Heresies 75:8. J1109
Chrysostom, On Phillipians 3:4. J1206
Serapion, The Sacramentary 13L1. J1239a
Augustine, Psalms 37:3. J1467, Sermons 159:1. J1513,*1516
Augustine, Genesis Defended 2:20:30. J1544
Augustine, Faith and Works 1:1. J1737a
Augustine, City of GOD 21:24:2+. J1776,1780, J1920, J1934
Caesar of Arles, Sermons 179:104:2. J2233
Gregory I, Dialogues 4:40. J2321




©
Written by Bob Stanley, November 17, 1997
Updated June 15, 2004 

Senin, 01 April 2019

11. APA ITU JIWA MENURUT KATOLIK ?


Apa sebenarnya jiwa itu?

Penjelasan
The glossary at the back of the U.S. version of the Catechism of the Catholic Church defines "soul" as follows:
Dalam daftar istilah di halaman belakang Katekismus Gereja Katolik versi A.S. mendefinisikan "jiwa" sebagai berikut:
The spiritual principle of human beings. The soul is the subject of human consciousness and freedom; soul and body together form one unique human nature. Each human soul is individual and immortal, immediately created by God. The soul does not die with the body, from which it is separated by death, and with which it will be reunited in the final resurrection.

Prinsip spiritual keberadaan manusia. Jiwa adalah subyek dari kesadaran dan kebebasan manusia; jiwa dan tubuh bersama membentuk satu kodrat manusia yang unik. Setiap jiwa manusia bersifat individual dan abadi, langsung diciptakan oleh Allah. Jiwa tidak ikut mati bersama tubuh, dimana jiwa dipisahkan dengan tubuh oleh kematian, namun jiwa akan dipersatukan kembali dengan 'tubuh' dalam kebangkitan terakhir.

Di bawah ini uraiannya:

The human person, created in the image of God, is a being at once corporeal and spiritual. The biblical account expresses this reality in symbolic language when it affirms that "then the Lord God formed man of dust from the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living being." Man, whole and entire, is therefore willed by God. In Sacred Scripture the term "soul" often refers to human life or the entire human person. But "soul" also refers to the innermost aspect of man, that which is of greatest value in him, that by which he is most especially in God’s image: "Soul" signifies the spiritual principle in man. The human body shares in the dignity of "the image of God": it is a human body precisely because it is animated by a spiritual soul, and it is the whole human person that is intended to become, in the body of Christ, a temple of the Spirit. Man, though made of body and soul, is a unity. Through his very bodily condition he sums up in himself the elements of the material world. Through him they are thus brought to their highest perfection and can raise their voice in praise freely given to the Creator. For this reason man may not despise his bodily life. Rather he is obliged to regard his body as good and to hold it in honor since God has created it and will raise it up on the last day. The unity of soul and body is so profound that one has to consider the soul to be the "form" of the body: i.e., it is because of its spiritual soul that the body made of matter becomes a living, human body; spirit and matter, in man, are not two natures united, but rather their union forms a single nature. The Church teaches that every spiritual soul is created immediately by God—it is not "produced" by the parents—and also that it is immortal: It does not perish when it separates from the body at death, and it will be reunited with the body at the final Resurrection. Sometimes the soul is distinguished from the spirit: St. Paul for instance prays that God may sanctify his people "wholly," with "spirit and soul and body" kept sound and blameless at the Lord’s coming. The Church teaches that this distinction does not introduce a duality into the soul. "Spirit" signifies that from creation man is ordered to a supernatural end and that his soul can gratuitously be raised beyond all it deserves to communion with God. The spiritual tradition of the Church also emphasizes the heart, in the biblical sense of the depths of one’s being, where the person decides for or against God. (CCC 362-368)

Pribadi manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, adalah makhluk yang sekaligus jasmani dan rohani. Catatan Alkitab mengungkapkan kenyataan ini dalam bahasa simbolis ketika menegaskan bahwa "maka Tuhan Allah membentuk manusia dari debu dari tanah, dan menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidungnya, dan manusia menjadi makhluk hidup." Manusia, utuh dan keseluruhan, oleh karenanya dikehendaki oleh Allah. Dalam Kitab Suci, istilah "jiwa" sering merujuk pada kehidupan manusia atau seluruh pribadi manusia. Tetapi "jiwa" juga merujuk pada aspek manusia yang paling dalam, yang memiliki nilai paling tinggi di dalam dirinya, yang dengannya ia terutama berada dalam citra Allah: "Jiwa" menandakan prinsip spiritual dalam diri manusia. Tubuh manusia berbagi dalam martabat "gambar Allah": itu adalah tubuh manusia justru karena dianimasikan oleh jiwa spiritual, dan itu adalah seluruh pribadi manusia yang dimaksudkan untuk menjadi, dalam tubuh Kristus, sebuah bait Roh. Manusia, meskipun terbuat dari tubuh dan jiwa, adalah satu kesatuan. Melalui kondisinya yang sangat fisik, ia meringkas dalam dirinya sendiri unsur-unsur dunia material. Melalui dia, mereka dibawa ke kesempurnaan tertinggi dan dapat meninggikan suara dalam pujian yang diberikan secara gratis kepada Sang Pencipta. Karena alasan ini manusia mungkin tidak membenci kehidupan tubuhnya. Sebaliknya, ia berkewajiban untuk menganggap tubuhnya sebagai benda yang baik dan menjunjung tinggi kehormatan itu karena Allah telah menciptakannya dan akan mengangkatnya pada hari terakhir. Kesatuan jiwa dan tubuh sedemikian dalam sehingga seseorang harus menganggap jiwa sebagai "bentuk" tubuh: yaitu, karena jiwa rohaninya, tubuh yang terbuat dari materi menjadi tubuh manusia yang hidup; roh dan materi, dalam diri manusia, bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan persatuan mereka membentuk satu kodrat. Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa spiritual diciptakan segera oleh Allah — jiwa tidak "diproduksi" oleh orang tua - dan juga bahwa jiwa abadi: jiwa tidak binasa ketika ia berpisah dari tubuh pada saat kematian, dan ia akan dipersatukan kembali dengan tubuh pada kebangkitan terakhir. Kadang-kadang jiwa dibedakan dari roh: St. Paulus misalnya berdoa agar Tuhan dapat menguduskan umat-Nya "sepenuhnya," dengan "roh dan jiwa dan tubuh" tetap sehat dan tak bercela pada kedatangan Tuhan. Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak memperkenalkan dualitas ke dalam jiwa. "Roh" menandakan bahwa dari penciptaan, manusia diperintahkan untuk mencapai tujuan supernatural dan bahwa jiwanya dapat dibangkitkan secara serampangan melampaui semua yang pantas untuk bersekutu dengan Allah. Tradisi spiritual Gereja juga menekankan hati, dalam arti alkitabiah tentang kedalaman keberadaan seseorang, di mana orang tersebut memutuskan untuk atau melawan Tuhan. (CCC 362-368)
Full Question
How do you explain what a soul is to a five-year-old?

Bagaimana Anda menjelaskan apa artinya jiwa bagi seorang anak berusia lima tahun?
Answer
The conversation might go something like this: 
Parent: Is there a difference between a rock and a plant?
Child: Yes. 
Parent: What do you think that difference is? 
Child: Ummm . . . the plant is alive and the rock isn't. 
Parent: That’s right. There is something in the plant that makes it alive which the rock doesn’t have. Right?
Child: Right.
Parent: Well, the thing in the plant that makes the plant alive is called a soul. And since the rock is not alive, it doesn’t have a soul. 
Child: So am I a plant, because I’m alive too? 
Parent: No, there are different kinds of souls. Answer this question: are there other things that are alive? 
Child: Yes, Fido is alive.
Parent: That’s right. Now, are you alive, too? Am I alive? 
Child: Yes. 
Parent: But, is Fido different than a plant? Can Fido do things that a plant can’t do?  
Child: Yes! 
Parent: Are you different than Fido? Can you do things that Fido can’t do?
Child: Of course! 
Parent: So, the plant is alive, Fido is alive, and we are alive, but we all have different powers and we do different things, right? 
Child: Right. 
Parent: That is because we all have different kinds of souls. Plant soul gives the plant certain powers, animal soul gives the animal certain powers, and the human soul gives the human certain powers.
Child: Does that mean plant souls and animal souls will go to heaven like us? 
Parent: No. When the plant dies, the plant soul dies with it. When Fido dies, Fido's soul dies with him. But when humans die, the human soul doesn’t die, it continues to live. You see, that’s what makes us unique as a human. Our souls don’t die, and that makes it possible for us to exist in heaven.
Percakapannya mungkin berlangsung seperti ini:
orangtua: Apakah ada perbedaan antara batu dan tanaman?
Anak: Ya.
orangtua: Menurut kamu apa perbedaan itu?
Anak: Hmm. . . tanaman itu hidup dan batu tidak.
orangtua: Benar. Ada sesuatu di tanaman yang membuatnya hidup, yang tidak dimiliki batu itu. Betul?
Anak: Benar.
orangtua: Ya, sesuatu di dalam tanaman yang membuat tanaman itu hidup disebut jiwa. Dan karena batu itu tidak hidup, ia tidak memiliki jiwa.
ANAK: Jadi, apakah saya ini tanaman, karena saya juga hidup?
orangtua: Bukan dong, ada berbagai jenis jiwa. Jawab dulu pertanyaan  ini: apakah ada sesuatu lain yang hidup?
ANAK: Ya, anjing saya masih hidup.
orangtua: Benar. Sekarang, apakah kamu masih hidup? Apakah saya hidup?
Anak: Ya.
orangtua: Tapi, apakah anjing berbeda dari tanaman? Bisakah anjing melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan tanaman?
Anak: Ya!
orangtua: Apakah kamu berbeda dari anjingmu? Bisakah kamu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan anjingmu?
Anak: Tentu saja!
orangtua: Jadi, tanaman itu hidup, anjing hidup, dan kita hidup, tetapi kita semua memiliki kekuatan yang berbeda dan kita melakukan hal yang berbeda, bukan?
Anak: Benar.
Orangtua: Itu karena kita semua memiliki jenis jiwa yang berbeda. Jiwa tumbuhan memberi kekuatan tertentu pada tanaman, jiwa hewan memberi kekuatan tertentu pada hewan, dan jiwa manusia memberi kekuatan tertentu pada manusia.
Anak: Apakah itu berarti jiwa tumbuhan dan jiwa binatang akan masuk surga seperti kita?
orangtua: Tidak. Ketika tanaman mati, jiwa tanaman mati bersamanya. Ketika anjingmu mati, jiwa anjingmu mati bersamanya. Tetapi ketika manusia mati, jiwa manusia tidak mati, ia terus hidup. Anda tahu, itulah yang membuat kami unik sebagai manusia. Jiwa kita tidak mati, dan itu memungkinkan kita untuk hidup di surga.
Full Question
Do animals have souls like human beings?
Apakah hewan memiliki jiwa seperti manusia?
Answer

Animals have souls--and so do plants. Does this answer sound like something out of the New Age movement? Don't worry--it isn't. Rest assured we're not saying animals and plants have souls like ours.



The soul is the principle of life. Since animals and plants are living things, they have souls, but not in the sense in which human beings have souls. Our souls are rational--theirs aren't--and ours are rational because they're spiritual, not material.



Animals and plants can't do anything which transcends the limitations of matter. Although some animals seem clever, they don't actually possess conceptional intelligence. They can't, for instance, conceive of the abstract notion of justice.

Animals and plants also lack a moral sense. When you scold Spot for chewing the carpet and tell him what he did was "wrong," you aren't assigning guilt of sin to him, since he can't commit a sin.

Animal and vegetable souls are dependent entirely on matter for their operation and being. They cease to exist at death. (There's no "doggie heaven.")

Human souls, by contrast, aren't material. They're spiritual. Only a spirit can know and love, a spirit's two chief faculties being the intellect (which knows) and the will (which loves). We know human souls are spiritual since humans can know and love.

We also know human souls are immortal because spirits can't decompose. They have no parts: Only a thing with parts can fall apart. A spirit is a unit. It has no top or bottom, no left or right, no inside or outside.

Every bit of matter, even the smallest, has parts. The human body can decompose--it's made of matter, after all--but the human soul can't. That's why we say it's immortal.

A good discussion of the differences between human beings and animals is available in Mortimer Adler's The Difference of Man and the Difference it Makes.
Hewan memiliki jiwa - dan begitu pula tanaman. Apakah jawaban ini terdengar seperti sesuatu yang keluar dari gerakan New Age? Jangan khawatir - tidak. Yakinlah bahwa kita tidak mengatakan hewan dan tumbuhan memiliki jiwa seperti kita.
Jiwa adalah prinsip hidup. Karena hewan dan tumbuhan adalah makhluk hidup, mereka memiliki jiwa, tetapi tidak dalam arti manusia memiliki jiwa. Jiwa kita rasional - jiwa mereka tidak - dan jiwa kita rasional karena jiwa bersifat spiritual, bukan material.
Hewan dan tumbuhan tidak dapat melakukan apa pun yang melampaui keterbatasan materi. Meskipun beberapa hewan tampak pintar, mereka sebenarnya tidak memiliki kecerdasan konsepsi. Misalnya, mereka tidak bisa memahami gagasan abstrak tentang keadilan.
Hewan dan tumbuhan juga kurang memiliki moral. Ketika Anda memarahi Spot karena mengunyah karpet dan mengatakan kepadanya apa yang dia lakukan adalah "salah," Anda tidak menugaskan seseorang bersalah, karena dia tidak bisa berbuat dosa.
Jiwa hewani dan nabati sepenuhnya bergantung pada materi untuk operasi dan keberadaannya. Mereka tidak ada lagi pada saat kematian. (Tidak ada "surga anjing.")
Sebaliknya, jiwa manusia bukanlah material. Mereka spiritual. Hanya roh yang dapat mengetahui dan mencintai, dua kepala roh adalah kecerdasan (yang tahu) dan kehendak/kemauan (yang mencintai). Kita tahu bahwa jiwa manusia adalah rohani karena manusia dapat mengetahui dan mencintai.
Kita juga tahu bahwa jiwa manusia adalah abadi karena roh tidak dapat membusuk. Mereka tidak memiliki bagian: Hanya benda dengan bagian yang dapat hancur. Semangat adalah satu kesatuan. Tidak ada bagian atas atau bawah, tidak ada kiri atau kanan, tidak ada di dalam atau di luar.
Setiap bagian materi, bahkan yang terkecil, memiliki bagian. Tubuh manusia bisa terurai - itu terbuat dari materi, setelah semua - tetapi jiwa manusia tidak bisa. Itu sebabnya kami katakan itu abadi.
Diskusi yang baik tentang perbedaan antara manusia dan hewan tersedia dalam Mortimer Adler's The Difference of Man dan Perbedaan yang dibuatnya.
Full Question
Is man body and soul or body, soul, and spirit? St. Paul uses all three, but didn't some council in Middle Ages eliminate "spirit"?

Apakah tubuh manusia dan jiwa (dichotomi) atau tubuh, jiwa, dan roh?(Trichotomi). St Paulus menggunakan ketiganya, tetapi bukankah beberapa konsili pada Abad Pertengahan menghilangkan "roh"?
Answer
St Paul's division of body, soul, and spirit could never be eliminated from the Church's teaching. The council you are referring to is the Ecumenical Council of Vienne in France in the year 1312. This council simply defined that the spiritual or rational soul is the form—that is, the immediate principle of life and being—of the human body. This was done to combat some errors which had arisen about human nature. This council was not referring to the words of St. Paul in 1 Thessalonians 5:23 about "spirit, soul, and body." 
"Soul" when distinguished from "spirit" means that which gives life to a body. "Spirit" when contrasted with "soul" simply means those aspects of human life and activity that do not depend on the body or the conditions of matter, and so open the soul toward the supernatural life of grace. Human nature has all of these aspects essentially, and finally, even the body will share in the life of the spirit in the resurrection. In any case, no Church council ever eliminated a teaching found in Sacred Scripture, nor could it.
Pembagian tubuh, jiwa, dan roh Santo Paulus tidak pernah dapat dihilangkan dari ajaran Gereja. Konsili yang Anda maksudkan adalah Konsili Ekumenis Vienne di Prancis pada tahun 1312. Dewan ini hanya mendefinisikan bahwa jiwa spiritual atau rasional adalah bentuk — yaitu, prinsip langsung kehidupan dan makhluk — dari tubuh manusia. Ini dilakukan untuk memerangi beberapa kesalahan yang muncul tentang sifat manusia. Konsili ini tidak merujuk pada kata-kata Santo Paulus dalam 1 Tesalonika 5:23 tentang "roh, jiwa, dan tubuh."
"Jiwa" ketika dibedakan dari "roh" berarti apa yang memberi kehidupan pada tubuh. "Roh" ketika dikontraskan dengan "jiwa" berarti aspek kehidupan dan aktivitas manusia yang tidak bergantung pada tubuh atau kondisi materi, dan dengan demikian membuka jiwa menuju kehidupan rahmat supernatural. Kodrat manusia memiliki semua aspek ini pada dasarnya, dan akhirnya, bahkan tubuh akan berbagi dalam kehidupan roh dalam kebangkitan. Dalam kasus apa pun, tidak ada konsili Gereja yang pernah menghilangkan pengajaran yang ditemukan dalam Kitab Suci, karena hal itu tidak bisa dilakukan.
Full Question
Are human souls and angels (both good and bad) made of the same substance as God?Apakah jiwa manusia dan malaikat (baik dan buruk) terbuat dari substansi yang sama dengan Tuhan?
Answer
Although human souls and angels (both good and bad) are immaterial like God, with intellect and will, they are not made of the same substance as God. In theology and philosophy, God’s substance refers to his divine nature. If human souls and angels were of the same substance as God, then human souls and angels would be divine. Obviously, this is not true. Human souls and angels belong to the created order. They are finite, and God is infinite.
Meskipun jiwa manusia dan malaikat (baik dan buruk) tidak material seperti Tuhan, dengan kecerdasan dan kehendak, mereka tidak terbuat dari substansi yang sama dengan Tuhan. Dalam teologi dan filsafat, substansi Tuhan merujuk pada sifat ilahi-Nya. Jika jiwa manusia dan malaikat memiliki substansi yang sama dengan Tuhan, maka jiwa dan malaikat akan menjadi ilahi. Jelas, ini tidak benar. Jiwa dan malaikat termasuk dalam tatanan yang diciptakan. Mereka terbatas, dan Tuhan tidak terbatas.
Full Question
Is it true, as Chanda.org states, that the souls of men and women are different because they come from complimentary but opposite sources? Benarkah, sebagaimana dinyatakan Chanda.org, bahwa jiwa pria dan wanita berbeda karena mereka berasal dari sumber-sumber yang saling melengkapi tetapi berlawanan?
Answer
This idea is an error which is found in various religious traditions that accept either the pre-existence of souls or reincarnation. This is found in traditions as disparate as Ultra-Orthodox Judaism and Hinduism. For us Catholics, God creates the human soul directly at each bodily conception, and so there is no sense in which the soul or human form is male or female except insofar as it is infused into a male or female body as its form.
Sexual difference is a bodily reality, and so it is true to say that the soul of a man is always and forever the form of a male body and a male person, and likewise for the soul of a woman. Sexual difference is not indifferent for the soul, but it is still true that this difference does not find its principle in the soul but in the body of one who belongs to a kind, a species that is multiplied in many individuals through procreation. The source of male and female is a single, identical source—namely, human nature, which requires the union of the sexes for its fulfillment.
Gagasan ini adalah kekeliruan yang ditemukan dalam berbagai tradisi keagamaan yang menerima baik pra-keberadaan jiwa atau reinkarnasi. Ini ditemukan dalam tradisi yang sangat berbeda dengan Yudaisme Ultra-Ortodoks dan Hindu. Bagi kita umat Katolik, Tuhan menciptakan jiwa manusia secara langsung pada setiap konsepsi tubuh, sehingga tidak ada perasaan di mana jiwa atau bentuk manusia adalah laki-laki atau perempuan kecuali sejauh dimasukkan ke dalam tubuh laki-laki atau perempuan sebagai bentuknya.
Perbedaan seksual adalah realitas tubuh, dan memang benar untuk mengatakan bahwa jiwa seorang pria selalu dan selamanya merupakan bentuk tubuh pria dan pria, dan juga untuk jiwa wanita. Perbedaan seksual bukan acuh tak acuh bagi jiwa, tetapi masih benar bahwa perbedaan ini tidak menemukan prinsipnya dalam jiwa tetapi dalam tubuh seseorang yang termasuk jenis, spesies yang dikalikan dalam banyak individu melalui prokreasi. Sumber laki-laki dan perempuan adalah sumber tunggal yang identik — yaitu, sifat manusia, yang menuntut penyatuan jenis kelamin untuk pemenuhannya.
Full Question
How could Enoch have been taken up into heaven before Jesus died on the cross and brought every soul who ever lived from limbo to heaven? 

Bagaimana Henokh dapat diangkat ke surga sebelum Yesus mati di kayu salib dan membawa setiap jiwa yang pernah hidup dari limbo ke surga?
Answer
First of all, Jesus didn’t take every soul who ever lived into heaven, only those who had died in God’s friendship, in the state of grace. Secondly, while it’s true that the Old Testament indicates that Enoch as well as Elijah were taken into heaven prior to the atonement and the harrowing of hell, it was still through the merits of Christ’s future passion and death that they were able to go there. Just as the Blessed Virgin was preserved from all stain of sin by the merits of Christ’s future passion applied to her at the time of her conception, in the same way God could bring Enoch and Elijah into heaven by the same future merits of Christ.
Pertama-tama, Yesus tidak mengambil setiap jiwa yang pernah hidup ke surga, hanya mereka yang telah mati dalam persahabatan dengan Allah, dalam keadaan rahmat. Kedua, meskipun benar bahwa Perjanjian Lama menunjukkan bahwa Henokh dan juga Elia dibawa ke surga sebelum pendamaian dan penyiksaan neraka, masih melalui jasa-jasa dari hasrat dan kematian Kristus di masa depan bahwa mereka dapat pergi ke sana. Sama seperti Perawan yang Terberkati diselamatkan dari semua noda dosa oleh jasa kerinduan Kristus di masa depan yang diterapkan padanya pada saat pembuahannya, dengan cara yang sama Allah dapat membawa Henokh dan Elia ke surga dengan jasa Kristus yang sama di masa depan.
Full Question
In the Old Testament we see Elijah being taken (presumably) body and soul into heaven. I understood that according to Catholic teaching, only Mary has been assumed body and soul into heaven. Obviously, just men like Moses and Elijah could not get into heaven itself until Jesus' time. But I'm still left with the quandary of Elijah: Was his body there ahead of Mary's?
Dalam Perjanjian Lama kita melihat Elia dibawa (mungkin) tubuh dan jiwa ke surga. Saya mengerti bahwa menurut ajaran Katolik, hanya Maria yang dianggap tubuh dan jiwa masuk surga. Jelas, hanya orang-orang seperti Musa dan Elia yang tidak dapat masuk ke surga sendiri sampai zaman Yesus. Tetapi saya masih pergi dengan kesulitan Elia: Apakah tubuhnya ada di depan Maria?
Answer

According to Scripture, Enoch and Elijah may have been assumed into heaven before the time of Christ. This is less clear in Enoch's case, since Genesis 5:24 says only that God "took" him, but doesn't say where. Sirach 44:16 and 49:14 make it clear that he was taken up from the earth, and Hebrews 11:5 adds "so that he should not see death."


In Elijah's case, 2 Kings 2:11 states that "Elijah went up by a whirlwind into heaven." First Maccabees 2:58 adds, "Elijah because of great zeal for the Law was taken up into heaven. " Taken at face value, these would seem to indicate that both Enoch and Elijah were assumed into heaven. But the Church teaches that heaven was not yet opened to the saints because Christ had not yet come. How can this be explained?

One possible explanation is to say that they didn't really go to heaven but to the abode of the dead where the souls of the righteous were waiting for the Messiah to open heaven. A difficulty is that the abode of the dead, or she'ol, is pictured in the Old Testament as being down (e.g., Nm 16:33 speaks of Korah and his followers going "down alive into she'ol"), yet Enoch and Elijah are depicted as being taken up.

Another possibility would be to say they were taken up but to a different kind of heaven than the one Christ opened. Or it is possible to say simply that they received entrance to heaven as a grace which came from the redemption Christ wrought – only they received it early, as did Mary when she was immaculately conceived. Like Mary, Enoch and Elijah may have been foretastes of the good things to come. In such a case, they would be exceptions to the rule. But God can do what he wants.
Menurut Kitab Suci, Henokh dan Elia mungkin telah diangkat ke surga sebelum zaman Kristus. Ini kurang jelas dalam kasus Henokh, karena Kejadian 5:24 hanya mengatakan bahwa Allah "mengambil" dia, tetapi tidak mengatakan di mana. Sirach 44:16 dan 49:14 memperjelas bahwa dia diangkat dari bumi, dan Ibrani 11: 5 menambahkan "supaya dia tidak melihat kematian."
Dalam kasus Elia, 2 Raja-raja 2:11 menyatakan bahwa "Elia naik oleh angin puyuh ke surga." Makabe 2:58 menambahkan, “Elia karena semangat yang besar akan hukum Taurat diangkat ke surga.” Dilihat secara langsung, ini tampaknya menunjukkan bahwa Henokh dan Elia diasumsikan ke surga. Tetapi Gereja mengajarkan bahwa surga belum dibuka untuk orang-orang kudus karena Kristus belum datang. Bagaimana ini bisa dijelaskan?
Satu penjelasan yang mungkin adalah mengatakan bahwa mereka tidak benar-benar pergi ke surga tetapi ke tempat tinggal orang mati di mana jiwa-jiwa orang benar sedang menunggu Mesias membuka surga. Kesulitannya adalah bahwa tempat tinggal orang mati, atau she'ol, digambarkan dalam Perjanjian Lama sebagai turun (misalnya, Bil 16:33 berbicara tentang Korah dan para pengikutnya akan "turun hidup-hidup ke she'ol"), namun Henokh dan Elia digambarkan diangkat.
Kemungkinan lain adalah dengan mengatakan bahwa mereka terangkat tetapi ke jenis surga yang berbeda dari yang dibuka Kristus. Atau mungkin untuk mengatakan secara sederhana bahwa mereka menerima jalan masuk ke surga sebagai anugerah yang berasal dari penebusan yang dilakukan Kristus - hanya mereka menerimanya lebih awal, seperti halnya Maria ketika dia dikandung dengan sempurna. Seperti Maria, Henokh dan Elia mungkin telah meramalkan hal-hal baik yang akan datang. Dalam kasus seperti itu, mereka akan menjadi pengecualian terhadap aturan. Tetapi Tuhan dapat melakukan apa yang dia inginkan.