Coba kita menaapakinya melalui pertanyaan sbb:
X pribadi = X Allah
Tanya :
Saat
Yesus dibaptis, nyata sekali ada 3 ousia. Yesus yg ousia nya Allah
sedang dibaptis, Bapa yg ousia nya Allah ada di sorga, dan Roh Kudus yg ousia
nya Allah juga hadir dalam wujud burung merpati??
Bagaimana
bisa dikatakan tiga pribadi Trinitas dalam satu ousia????
Catatan :
Ousia = kodrat, hakekat, substansi, esensi
Jawab/penjelasan :
Perhatikan si
penanya memiliki pengertian akan Allah yg keliru. Pemahamannya akan Allah
sangat dangkal. Dia memahami ke-Allah-an dapat dibatasi oleh ruang.
Dia memahaminya begini ; karena Yesus adalah Allah, Bapa yang di sorga adalah
Allah dan Roh Kudus yg hadir dalam rupa burung merpati juga Allah, maka berarti
ada 3 Allah. Mengapa? Karena menurut dia, tiga
pribadi yg memiliki KODRAT/OUSIA ILAHI (KE-ALLAH-AN), hadir di 3 tempat berbeda dan dalam cara berbeda juga.
Itu konsep Allah yang serba terbatas.
Perhatikan dari
tulisan Ludwig Ott no 23 di atas, yg merupakan Dogma. Dimana anak2pun sering
mengucapkannya. " Allah hadir di mana-mana. "
Jangan sampai si penanya
berpikir demikian. " Karena Allah hadir di mana-mana, Allah berjumlah
banyak tak terbatas. " BUKAN !!! Allah tetap Esa. (Ludwig Ott : 12.
There is only one God. Hanya ada satu Allah.)
Allah tidak terikat oleh
ruang dan waktu. Allah hadir dalam setiap ruang, waktu dan
semua substansi (pengada) terbatas.
Allah hadir sebagai prinsip yang memungkinkan semua pengada tersebut menjadi
ada.
Tentu saja, itu
bukan hanya pernyataan kosong, tetapi merupakan kebenaran. Tidak ada tempat, ruang atau substansi (pengada) dimana Allah tidak
hadir.
Mengapa ???
Jika Allah tidak
hadir disitu, maka "di situ" berarti tak ada apa2 alias NIHIL.
Allah-lah yang menopang segala sesuatu, menjadikan segala sesuatu, dan tetap
mempertahankan eksistensi segala sesuatu.
Bagaimana dgn si
penanya yg bingung dengan pengertian ini : Ada 3 pribadi yang memiliki 1 ousia
/ kodrat / hakikat yg sama, yaitu ousia Allah/ilahi.
Ousia Allah atau bisa juga disebut substansi illahi, tetap 1,
tunggal, Esa, tak terbagi (istilah Ibrani yachid = always absolute numerical one/ solutary),
walaupun "di-share" oleh 3 pribadi yang berbeda.
Penjelasannya :
Jangan
memikirkan atau membandingkan "ousia"
Allah tersebut secara material, jasmaniah, yang mengambil tempat
atau ruang waktu tertentu. Karena… jika kita membayangkan ousia Allah dengan
cara tersebut, pasti kita akan kesulitan memikirkan bagaimana 1 ousia yang
sama dibagi oleh 3 pribadi atau hadir pada saat bersamaan " di semua
ruang, tempat, atau dimana-mana. "
Pikirkanlah… …
Renungkan-lah … ...
Pahamilah… ...
Itulah Trinitas.
253. Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi
satu Allah dalam tiga Pribadi: "Tritunggal yang sehakikat" (Konsili
Konstantinopel II 553: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi
ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka
adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: "Bapa adalah
yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah
yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat"
(Sinode Toledo XI 675:DS 530). "Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu
merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi" (K.
Lateran IV 1215: DS 804).
254. Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang
lain. Allah yang satu bukanlah "seakan-akan sendirian" (Fides
Damasi: DS 71). "Bapa", "Putera", "Roh Kudus",
bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat
ilahi, karena, mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: "Bapa
tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan
Bapa dan Putera"(Sin. Toledo XI 675: DS 530). [468, 689] Masing-masing
berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah
"Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang
dihembuskan" (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat
tritunggal.
255. Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena
perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka
perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: "Dengan
nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan
Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan
keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun
mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita" (Sin.Toledo
XI 675: DS 528). [240] Dalam mereka "segala-galanya... satu, sejauh tidak
ada perlawanan seturut hubungan" (K. Firenze 1442: DS 1330). "Karena
kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh
Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh
Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera" (ibid., DS
1331).
Mendalami arti
Substansi / Ousia / Nature / Kodrat / hakekat dibandingkan dengan Pribadi /
hypostasis / person / pribadi
Catatan Penting
: Sesuatu dikatakan ada jika mempunyai Substansi atau ousia atau nature atau
kodrat atau hakekat.
Perhatikan :
Mineral memiliki
substansi, tetapi tidak memiliki pribadi
Batu memiliki
substansi, tetapi tidak memiliki pribadi.
Tanaman memiliki
substansi, tetapi tak berpribadi
Kucing memiliki
substansi, tetapi tak berpribadi
Manusia memiliki
substansi, juga memiliki pribadi
Malaikat memiliki
substansi, juga memiliki pribadi
Cara menguji
suatu ke-ADA-an (keberadaan)
Adakah mineral
(mis : Natrium) ?
Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah batu (
batu giok ) ?
Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah tanaman (
pohon mangga) ? Ada
(bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah Kucing
?
Ada (bersubstansi, tak berpribadi)
Adakah manusia
?
Ada (bersubstansi, berpribadi)
KESIMPULAN :
Sesuatu ada,
karena bersubstansi, bukan karena tidak ada pribadi (0 pribadi), bukan karena
adanya pribadi ( 1 pribadi, 2 pribadi, …. 3 pribadi atau bahkan 1000 pribadi)
Jadi yang
menunjukkan Allah itu satu, adalah Allah dengan satu substansi, bukan jumlah
pribadiNya
Bisakah
dikatakan bahwa Allah tidak bersubstansi, yang berkonsekuensi Allah itu
tidak ada? Tidak bukan? Demikian juga cara untuk memahami Trinitas (Satu
Substansi Allah dalam Tiga Pribadi Allah), Tiga Pribadi Allah tidak berarti
Tiga Substansi.
Maka adalah keliru untuk "jump to
conclution":
X pribadi = X Allah
0 Pribadi = 0 Allah (untuk mengkritik iman
agama tertentu)
3 Pribadi = 3 Allah (untuk mengkritik iman
Kristen)
Kita tidak
mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi:
"Tritunggal yang sehakikat" ( disebut satu Allah, karena hanya ada
satu substansi Allah, satu-satunya !!!)
Pribadi-Pribadi
Allah bukanlah bagian (parts) dari substansi Allah.
Seandainya demikian, tentulah tidak bisa dikatakan Bapa adalah sepenuhnya
Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah, melainkan
masing-masing adalah sebagian Allah (dan hal ini bertentangan dengan iman
Katolik). Yang benar: Pribadi adalah "who subsist in the nature"
(pribadi adalah jati diri dalam kodrat/hakikat) bukan "some part of
nature." Karenanya tidak masalah untuk mengatakan bahwa Bapa adalah
sepenuhnya Allah, Putera sepenuhnya Allah, Roh Kudus sepenuhnya Allah dan bahwa
keTiganya berada dalam kesatuan substansi.